GOES TO JAPAN PART 2
Bismillahirrahmannirrahiim..
Haiii reader, Alhamdulillah respon dari cerita goes to japan kemarin insya allah bagus. Sebelumnya saya memang berniat membuat cerita perjalanan saya ke jepang menjadi 4 part, part pertama tentang usaha saya mendapatkan dana, part kedua tentang proses keberangkatan, part ketiga tentang kegiatan forum yang saya ikuti selama di Jepang dan part keempat tentang perjalanan saya selama di Tokyo beserta kepulangan saya kembali ke tanah air. (lumayan banyak yaa.. hahaha) Tapi memang banyak banget yang terjadi pada moment-moment itu. Oiya, saya ngebuat 4 part ini bukan karena tulisan saya kemarin direspon bagus yaa, (atau direspon sedih) hehehe. Saya memang sudah niat untuk bikin tulisan terkait pengalaman saya ke Jepang, tujuan awalnya biar saya ga lupa n selalu terkenang. Syukur-syukur bisa memotivasi orang lain juga. Mohon doanya yaa, semoga saya bisa menuntaskan ke empat part yang saya rencanakan ini, aamiin…
Haiii reader, Alhamdulillah respon dari cerita goes to japan kemarin insya allah bagus. Sebelumnya saya memang berniat membuat cerita perjalanan saya ke jepang menjadi 4 part, part pertama tentang usaha saya mendapatkan dana, part kedua tentang proses keberangkatan, part ketiga tentang kegiatan forum yang saya ikuti selama di Jepang dan part keempat tentang perjalanan saya selama di Tokyo beserta kepulangan saya kembali ke tanah air. (lumayan banyak yaa.. hahaha) Tapi memang banyak banget yang terjadi pada moment-moment itu. Oiya, saya ngebuat 4 part ini bukan karena tulisan saya kemarin direspon bagus yaa, (atau direspon sedih) hehehe. Saya memang sudah niat untuk bikin tulisan terkait pengalaman saya ke Jepang, tujuan awalnya biar saya ga lupa n selalu terkenang. Syukur-syukur bisa memotivasi orang lain juga. Mohon doanya yaa, semoga saya bisa menuntaskan ke empat part yang saya rencanakan ini, aamiin…
Lanjuuuut..
Sebenarnya waktu itu saya sangat berharap dapat dana yang dari pemda, dan sudah sebulan lamanya proposal saya ada di pemda dengan dioper kesana kemari. Akhirnya, Senin, 2 Maret 2015 proposal saya dipemda berakhir begitu saja. Tapi perjuangan ga boleh berakhir dong, tentuu. Saya pertama kali mengajukan proposal untuk kegiatan ini ke pemda, lalu ke Garuda (ini terlewatkan waktu nulis kemarin, heheh), lalu ke pertamina, lalu ke mandiri, lalu ke British, lalu ke ACT. Kelima tempat setelah pemda itu, saya berkolaborasi dengan Gita yang dari UIN, dan kelima-limanya tidak berhasil.
Nah, hari Jumat tanggal 13/20 Februari 2015 (antara dua tanggal itu yaa, saya ingetnya hari jumat aja waktu itu), saya baru mau minta tanda tangan ke PD3. Dan karena saat itu PD3nya sedang tidak ada ditempat, jadi saya titip saja dan akan saya ambil senin. Hari minggunya saya mendengar berita duka kalau PD3 saya meninggal, otomatis saya sedih dan bingung juga ketika itu. Kaget pasti, semua orang juga kaget, soalnya beliau masih muda dan belum berusia 50 tahun dan tidak sedang dirawat. Tapi yang membuat saya bingung, kejadiannya pas banget dalam jangka waktu saya meminta tanda tangan ke beliau untuk kegiatan saya ini, banyak pertanyaan muncul dibenak saya, “apakah Allah meridhoi kegiatan saya ini? Apakah acara ini benar-benar baik untuk saya?”. Okee, saat itu saya tidak mau mengambil keputusan apapun selain berdoa untuk almarhum PD3 dan mengikhlaskan apapun yang terjadi, apakah proposal saya sudah ditandatangani atau belum ya saya mengikhlaskannya, toh kematian itu siapa yang tau dan memangnya bisa ditunda, semuanya sudah diatur oleh Allah. Kelahiran, jodoh, rizki dan maut semuanya sudah diatur oleh Allah, termasuk rizki saya untuk berangkat ke Jepang juga sudah diatur oleh Allah. Dan hari seninnya, saya pun berangkat ke kampus untuk mengambil proposal saya, dan memang belum ditandatangani tapi saya ga kecewa soalnya saya sudah mempersiapkan diri dan insya allah ikhlas akan hal itu.
Okee, saya pun melanjutkan nasib proposal yang tertunda dengan kembali meminta tanda tangan ke ketua jurusan dan ke dekan sebagai pengganti tanda tangan PD3. Dan barulah saya mengajukan dana ke PD2, ketika itu beliau menanyakan kepada saya kok baru sekarang ngajuin proposal karena fakultas harus bikin SK ke rektor, dan rupanya ada anak psikologi 2 orang yang mengikuti event yang sama dengan saya yang sudah mengajukan terlebih dulu dan sudah dibuat SK nya ke rektor.
Singkat cerita, minggu terakhir februari saya belum mengantongi dana sepeserpun untuk berangkat ke Jepang sedangkan tanggal 11 maret acaranya. Jadi, mau ga mau minggu pertama bulan maret saya sudah harus beli tiket pesawat dan membuat visa, kalau sampai hari rabu belum ada dana ya berarti saya ga bisa ikut event ini. Saya pun membuat rencana, kalau saya paling telat harus membuat visa di hari rabu tanggal 4 maret sehingga visa saya bisa selesai hari senin tanggal 9 jika tidak ada halangan apapun, dan saya juga harus mengambil tiket pesawat setelah tanggal 9, yaitu tanggal 10 atau 11. Tanggal 11 sudah mulai acaranya dan seluruh peserta harus berkumpul di sendai station pukul 13.00, telat dari itu kami harus berangkat sendiri ke tempat akomodasi. Saya pun berpikir, ga mungkin saya berangkat tanggal 11 dan sampai jam 1 kalau saya naik pesawat yang transit, kalau naik pesawat yang langsung sih mungkin tapi uang untuk beli tiket pesawat yang transit aja belum ada ditangan, ini udah bikin rencana aja untuk beli tiket pesawat yang langsung ke Jepang seperti Garuda Indonesia. Hahaha. Namanya rencana kalau sudah terdesak pasti yang pahit-pahitnya yang kita rencanakan, yang udah mentok lah, selain itu ga ada rencana lain lagi. Hahaha. Saya pun merencanakan untuk beli pesawat tanggal 10. (kalau sudah ada duitnyaa..)
Jumat tanggal 27 februari 2015, hari terakhir weekend di minggu terakhir bulan Februari belum ada hasil apapun. Waktu itu saya lamaa banget duduk di stasiun sudirman, apa yang saya lakukan? terus berdoa dan meyakini diri saya kalau saya bisa ke Jepang. Kadang saya merasa ini konyol, karena saya terus meyakinkan diri saya di H-12 sebelum acara dimulai. Disaat yang lain sudah membeli tiket pesawat dan sedang menunggu visanya jadi, di saat yang lain sibuk mempersiapkan pakaian hangat mereka selama disana, disaat yang lain sibuk mencari tahu keadaan suhu selama disana, dsaat yang lain saling berhubungan untuk membahas agenda selama disana, disaat yang lain sibuk mecari colokan kabel yang sesuai dengan colokan disana, disaat yang lain sibuk mempersiapkan kamera dan kebutuhan lainnya untuk disana. SAYA? Masih sibuk dengan proposal dan mencari dana. Apakah tidak konyol? Ya memang konyol tapi Allah-Lah Sang Maha Perencana terbaik, kita manusia hanya ditugaskan untuk berdoa dan berusaha. Allah memang Maha Mengetahui kadar kemampuan kita SETELAH KITA BERUSAHA MAKSIMAL, hari itu juga teman ayah saya mengirimi dana sebesar 5 juta rupiah.
Ketika itu, saya tidak langsung membeli tiket pesawat karena belum menemukan tiket pesawat PP seharga 5 juta. Hari Rabu (4/3/15) pun tiba, dana yang saya pegang masih segitu dan belum bertambah sedangkan saya harus membeli tiket pesawat dan mengurus visa hari itu juga. saya berangkat pagi-pagi ke stasiun sudirman dan langsung membayar tiket pesawat PP sekitar Rp. 6.100.000. setelah itu, barulah saya menyiapkan berkas-berkas untuk ngurus visa. Saya ke fotokopian, ngeprint tiket yang baru saya beli, ngeprint formulir pembuatan visa, ngeprint form rencana perjalanan selama di jepang, fotokopi rekening Koran, dan saya lupa untuk berfoto dengan latar belakang putih, jadi saya minta tolong di edit foto saya yang sudah ada. (jangan ditiru yaa) pas sudah ditengah jalan mo naik kopaja ke Kedubes Jepang saya baru inget kalo foto kopi KTP dan KTM saya dipotong menjadi seperti ukuran KTP/KTM yang asli, seharusnya jangan dipotong. Mau balik lagi juga tanggung dan perkiraan saya nanti fotokopi disana aja, pasti adalah tempat fotokopi kayak dikantor imigrasi saja ada. Tapi perkiraan saya salah, ga ada fotokopi disana, dan saya pun harus ke Office 2000 di Plaza Indonesia untuk fotokopi dan ngeprint form yang salah tulis. Tahukah sodara-sodara biayanya? Satu lembar ngeprint hitam putih Rp. 10.000 dan satu lembar fotokopi Rp. 1.000, saya ngeprint 2 lembar dan fotokopi 5 lembar habis Rp.25.000.
Saya kira perjuangan saya hanya mendapatkan dana, rupanya untuk mendapatkan visa, saya masih harus berjuang. Hehehe.. Saking terpakunya pada urusan pendanaan, saya sama sekali tidak melihat mengenai prosedur pembuatan visa dan informasi apa saja yang harus ditulis diformulir. Alhasil saya kelabakan saat itu, yang paling sulit saya isi saat itu adalah profil guardian selama di Jepang, okee lah saya di kasih namanya dan no HPnya oleh panitia, tapi saya ga tau tanggal lahirnya, alamatnya, dan jenis kelaminnya. Saya menghubungi 4 teman saya ga langsung dibales karena memang mereka sedang kuliah saat itu, mau nelpon ke guardian yang di jepang ga punya pulsa dan parahnya lagi baterai HP saya low jadi paket datanya juga harus di on-off in untuk menghemat baterai, Kembalinya dari Plaza Indonesia, saya disambut dengan antrian panjang untuk masuk Kedubes Jepang, saat itu pukul setengah sebelas dan pembuatan visa tutup pukul 12.00. (Nah, jadi Kedubes Jepang itu punya batas pengunjung yang masuk ke dalam, kalau pengunjung di dalam penuh berarti kita nunggu pengunjung yang didalam keluar dulu baru kita boleh masuk) Ya ampuun, waktu itu saya hampir saja mau nangis. Ada aja ya masalahnya, dan saya sempat kebayang ‘kalau pembuatan visa saya ga selesai hari ini berarti visa ga bisa jadi hari senin dan saya ga bisa berangkat hari selasa sedangkan sudah beli tiket hari selasa, Berarti tiket saya hangus, Oh noooo’. Mungkin kekhawatiran saya nampak diraut wajah saya sampai satpamnya ngehampirin saya (saya ga nangis kok waktu itu, hehehe) dan nanya kenapa, saya bilang aja tadi saya sudah kesini tapi keluar lagi untuk fotokopi, dia nanya “masih megang ID Card ga?” saya jawab aja engga, dia bilang seharusnya jangan dikembaliin ID Cardnya, jadinya saya harus ikutan ngantri deh. Pas lagi ngantri saya coba hubungi teman-teman saya lagi, alhamdulillahnya ada salah satu teman saya yang ngirimin foto formulir pembuatan visanya berikut isiannya, jadi saya bisa nyalin aja nanti. Hehehe. Dan alhamdulillah juga, saya masih bisa masuk dan ngga terlalu lama ngantrinya diluar. Sesampainya di dalam, saya ngambil nomor antrian lagi padahal tadi saya sudah ngambil sebelum ke fotokopian tapi takutnya nomor antrian saya yang sebelumnya sudah dipanggil, jadi untuk jaga-jaga saya ambil lagi deh. Setelah itu saya langsung mengisi form pembuatan visa dan form rencana perjalanan selama di jepang. Saya ngelihat ke loket, rupanya nomor antrian saya yang pertama saya ambil belum dipanggil, saya pun buru-buru mengisi semua formulirnya agar saya bisa langsung menyerahkan ke loket ketika no antrian saya dipanggil. Katika hampir selesai mengisi formnya nomor saya sudah keburu dipanggil, daripada saya kelamaan nunggu dan loket pembuatan visanya tutup saya pun nekad aja ngebawa semua berkas yang masih berantakan itu ke depan loket. Hahaha.. bapak-bapak yang jagain loket sampai bilang gini “kasih semuanya ke saya biar saya pilih”, maksudnya sih baik tapi saya aja yang punya berkas bingung apalagi beliau. Jadi saya pilih berkasnya satu-satu lalu saya kasih ke beliau dan lebih efektif juga. hahaha (Alhamdulillah ada yang ngebantuin).
Hari kamisnya adalah hari terakhir pembayaran biaya akomodasi, kalau tidak bayar ya tidak jadi dapat akomodasi. Hehehe. Hari itu saya datang ke kampus dan Alhamdulillah rektorat ngasih 1.5 juta. Hari itu juga teman ibu saya ngasih sebesar 3 juta. Langsung hari itu juga saya bayar biaya akomodasi sekitar 3,5 juta. (gampang ya ngabisin duit, ga bermalam langsung habis tapi nyariinyaaa,. ITULAH USAHA.). sisanya saya kasih ke ibu saya, karena uang ibu saya banyak banget ke pake sama saya sedangkan kebutuhan juga lagi banyak-banyaknya, awalnya ibu saya ga mau nerima soalnya saya juga belum ada uang untuk bekal saya selama di Jepang, tapi saya bilang “insya Allah iti besok dapat dari fakultas bu” dan Alhamdulillah memang besoknya, hari jumat saya dapat dana dari fakultas 2 juta. Sebenarnya uang yang saya kasih ke ibu saya, sama ibu saya dipake untuk keperluan saya juga untuk mencukupi kelengkapan kebutuhan saya selama disana, seperti: ongkos untuk ngambil koper dan baju hangat yang saya pinjem ke teman ibu saya, ongkos nyari colokan kabel, beli ini itu, dll.
Tibalah hari senin, hari untuk
mengambil visa. Hari itu merupakan hari yang cukup menegangkan buat saya. Haahaha..
kenapa engga? Proses yang saya lakukan waktu membuat visa sangat kurang
persiapan, jauh dari kata rapih dan saya takut banget ada berkas yang kelewat
atau tidak lengkap, form rencana perjalanan saya saja masih ada yang belum saya
isi dan tanda tangani, foto di edit padahal ga boleh. Tapi Alhamdulillah
akhirnya visa saya jadi dan gratisss. Hehehe.. (jujur, ada kepuasan tersendiri pas ngurus visa sendiri dan tanpa kekurangan berkas apapun) hari itu juga saya langsung ke
money changer untuk menukar rupiah ke yen, waktu itu Alhamdulillah dapat
tambahan dana dari teman ayah sebesar 500.000. jadi saya menukar uang rupiah
sekitar 2.300.000, dan dikembaliin 21.000 yen, uang rupiah yang tebal berubah menjadi 3 helai
uang kertas… wkwkwkw.
Disini saya belajar untuk terus berusaha dan yakin kepada Allah SWT. sebelumnya saya mengira, menanamkan keyakinan itu gampang tapi sebenarnya itu sulitnya minta ampuuun. hahaha... pantes urusan keyakinan ini sering banget dibahas, engga dalam pengajian ataupun oleh para motivator handal. coba bayangin, kalau menanamkan sebuah keyakinan itu gampang, pasti sudah banyak orang yang masuk islam dan orang yang sukses.
Saya selalu berusaha memompa keyakinan saya pada moment-moment ini. Tidak jarang pikiran negatif bermunculan begitu saja. Tapi kalau kita sudah terbiasa meyakinkan diri sendiri, semua pikiran negatif tersebut kalah dengan sendirinya. Dan disitulah Allah menilai kesungguhan kita. dan jangan lupa 'selalu berprasangka baik kepada Allah'.
Bukankah moment yang saya alami seperti meninggalnya PD3, belum ada dana sampai H-12 dan sulitnya mengurus visa bisa dijadikan celah untuk give up? tapi dibalik itu Allah sedang mengajarkan kita dan sedang menilai kesungguhan hati kita dalam mewujudkan impian kita.
Pada moment ini, saya berkeyakinan 'Allah memiliki rencana terbaiknya untuk saya'. untuk saya banyak belajar, untuk saya banyak bersyukur, untuk saya banyak berharap kepada-Nya. Dan saya pun harus memberikan usaha serta amalan terbaik saya kepada-Nya. Sekarang, setelah saya memikirkan semua yang saya alami, saya baru merasa konyol dengan kejadian di moment ini. kenekatan saya membeli tiket pesawat dan mengurus visa padahal belum punya dana untuk biaya akomodasi dan lain-lain, tapi tau-taunya besok saya langsung bisa membayar biaya akomodasi, besoknya lagi saya dapat dana untuk bekal saya selama di Jepang. Saya menanti proposal cair berminggu-minggu tapi ga ada dana yang cair, namun seminggu sebelum berangkat semuanya berbanding terbalik, hanya selang sehari saya langsung dapat dana dari yang tidak saya sangka dan duga. Itulah janji Allah pada surat Al- Insyirah ayat 5 ' maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan'. Tidak ada yang sia-sia dimata Allah, amalan dan dosa yang sebesar biji zarrah saja dihisab juga oleh Allah.
Tipsnya, ketika kita berusaha cobalah seperti orang buta. jangan melihat atau membandingkan kegagalan kita dengan banyaknya usaha yang telah kita lakukan. Hal ini akan memacu perasaan negatif dalam diri kita, padahal boleh jadi usaha kita tersebut belum maksimal. Coba kita lihat Thomas Alfa Edison, Galileo Galilei, wright bersaudara dan banyak ilmuan lainnya yang dipandang konyol oleh khalayak ramai, berkali-kali gagal tapi mereka tetap berusaha dan yakin akan usahanya. mereka ga yakin akan adanya Allah, mereka hanya meyakini usahanya semata. masa kita yang yakin akan adanya Allah Sang Maha Pemberi, mau kalah dengan mereka dengan sikap pasrah kita. Tawakal bukan berarti hanya berserah diri kepada Allah tanpa usaha. But, tawakal itu berserah diri kepada Allah apapun hasilnya setelah kita berusaha maksimal. Okee..
Sampai ketemu di part selanjutnya yaaa.. ^_^
Disini saya belajar untuk terus berusaha dan yakin kepada Allah SWT. sebelumnya saya mengira, menanamkan keyakinan itu gampang tapi sebenarnya itu sulitnya minta ampuuun. hahaha... pantes urusan keyakinan ini sering banget dibahas, engga dalam pengajian ataupun oleh para motivator handal. coba bayangin, kalau menanamkan sebuah keyakinan itu gampang, pasti sudah banyak orang yang masuk islam dan orang yang sukses.
Saya selalu berusaha memompa keyakinan saya pada moment-moment ini. Tidak jarang pikiran negatif bermunculan begitu saja. Tapi kalau kita sudah terbiasa meyakinkan diri sendiri, semua pikiran negatif tersebut kalah dengan sendirinya. Dan disitulah Allah menilai kesungguhan kita. dan jangan lupa 'selalu berprasangka baik kepada Allah'.
Bukankah moment yang saya alami seperti meninggalnya PD3, belum ada dana sampai H-12 dan sulitnya mengurus visa bisa dijadikan celah untuk give up? tapi dibalik itu Allah sedang mengajarkan kita dan sedang menilai kesungguhan hati kita dalam mewujudkan impian kita.
Pada moment ini, saya berkeyakinan 'Allah memiliki rencana terbaiknya untuk saya'. untuk saya banyak belajar, untuk saya banyak bersyukur, untuk saya banyak berharap kepada-Nya. Dan saya pun harus memberikan usaha serta amalan terbaik saya kepada-Nya. Sekarang, setelah saya memikirkan semua yang saya alami, saya baru merasa konyol dengan kejadian di moment ini. kenekatan saya membeli tiket pesawat dan mengurus visa padahal belum punya dana untuk biaya akomodasi dan lain-lain, tapi tau-taunya besok saya langsung bisa membayar biaya akomodasi, besoknya lagi saya dapat dana untuk bekal saya selama di Jepang. Saya menanti proposal cair berminggu-minggu tapi ga ada dana yang cair, namun seminggu sebelum berangkat semuanya berbanding terbalik, hanya selang sehari saya langsung dapat dana dari yang tidak saya sangka dan duga. Itulah janji Allah pada surat Al- Insyirah ayat 5 ' maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan'. Tidak ada yang sia-sia dimata Allah, amalan dan dosa yang sebesar biji zarrah saja dihisab juga oleh Allah.
Tipsnya, ketika kita berusaha cobalah seperti orang buta. jangan melihat atau membandingkan kegagalan kita dengan banyaknya usaha yang telah kita lakukan. Hal ini akan memacu perasaan negatif dalam diri kita, padahal boleh jadi usaha kita tersebut belum maksimal. Coba kita lihat Thomas Alfa Edison, Galileo Galilei, wright bersaudara dan banyak ilmuan lainnya yang dipandang konyol oleh khalayak ramai, berkali-kali gagal tapi mereka tetap berusaha dan yakin akan usahanya. mereka ga yakin akan adanya Allah, mereka hanya meyakini usahanya semata. masa kita yang yakin akan adanya Allah Sang Maha Pemberi, mau kalah dengan mereka dengan sikap pasrah kita. Tawakal bukan berarti hanya berserah diri kepada Allah tanpa usaha. But, tawakal itu berserah diri kepada Allah apapun hasilnya setelah kita berusaha maksimal. Okee..
Sampai ketemu di part selanjutnya yaaa.. ^_^

Aldinaaa... rencana Allah indah banget :)
BalasHapusikut seneng dan merasakan alur ceritanyaaaa
Iyaa gia, rencana Allah indaah bangeet..
BalasHapusTerimakasiih giaa pujiannya, tapi penulisanku amburadul.. hahaha..
tolong dikritik ya yang mana yang harus aku beneriiin bu giaaa.. hehehe..