GOES TO JAPAN

MEMANTASKAN DIRI



Bismillahirrahmannirrahiim..
Haii reader, ini adalah tulisan pertama saya ditahun 2015. Alhamdulillah tulisan pertama saya di tahun 2015 ini akan menceritakan mengenai perjuangan saya berangkat ke Jepang. Mungkin sebagian ada yang berpendapat, ngapain diceritain n diinget yang sedih-sedihnya, toh sudah berangkat n ga sedih lagi. But, saya ingin mengabadikan moment berharga saya ini. Dimoment ini saya banyaak sekali belajar, belajar sabar, belajar untuk tidak mudah putus asa, belajar positif thinking n masih banyak lagii. Saya tidak ingin pelajaran yang saya dapat selama masa-masa ini hilang begitu saja, saya berharap pelajaran ini akan terus terkenang dan selalu memompa saya menjadi lebih baik, aamiin. (mohon doanya ya reader)  :)

Pertengahan Januari lalu saya diterima untuk mengikuti Children and Youth Forum at The Third United Nation World Conference on Disaster Risk Reduction di Sendai, Jepang. Pas pertama ngebaca email itu saya senang tetapi juga sedih, senang karena lulus dan sedih karena muncul pertanyaan dalam benak saya “apakah saya bisa berangkat?”. Dan jujur, ketika mendapatkan email ini saya tidak seantusias ketika saya berangkat ke Malaysia tahun lalu karena banyak sekali hal yang harus saya pertimbangkan sebagai mahasiswa tingkat akhir. Saya mengakui saat itu saya menjadi kurang bersyukur dan sombong, saya merasa ‘ah kok gampang banget ya lulusnya, padahal kelihatannya acaranya bagus. Apa benar acaranya bagus? Jangan-jangan acaranya biasa-biasa aja lagi? Berarti gampang ya masuk Jepang itu, kapan-kapan aja deh nyoba lagi’. (negative thingking, oh noo…)

Nah, tapi entah kenapa beberapa hari kemudian saya tetap kepikiran sama event itu. Saya cerita dong ke Ibu saya, (dulu mah pas lulus event ke Malaysia saya langsung jingkrak-jingkrakan cerita sama ibu saya tapi ini karena sudah negative thinking duluan ceritanya beberapa hari kemudian dan cara ngomongnya itu engga bangeet daah) “ibu, masa iti lulus acara ke Jepang, tapi kayaknya ga iti ambil bu, SUP aja iti belum, iti mau fokus skripsi aja sama PKM. Pasti sibuk banget ya kan bu?” hahaha, mengajukan pertanyaan dan meminta penguatan akan keputusan sendiri. Tandanya AKU GA YAKIN DENGAN KEPUTUSAN SENDIRII. Padahal besoknya dikereta perjalanan ke kampus saya berdoa “Ya Allah jika acara saya ini baik untuk saya berikan saya keteguhan hati dan mudahkan segala urusan saya untuk berangkat, tapi jika acara ini tidak baik untuk saya mudahkanlah saya untuk melupakannya ya Allah”. Tentunya Allah Maha Mendengar doa hamba-hamba-Nya dong, dan saya memasrahkan semuanya pada-Nya dengan mencoba menjauhkan pikiran saya akan event tersebut.

But, beberapa minggu kemudian. Ibu saya bilang “kakak katanya mau ke Jepang. Yaudah kak ikut aja” kata-kata itu saya inget banget ibu saya ngomong pas di depan rumah waktu mau pergi acara keluarga, mungkin karena saya sering banget di email sama panitia n saya selalu cerita sama ibu saya, jadi ibu saya juga kepikiran. dan langsung timbul dibenak saya 'wah kayaknya ini pertanda baik, ibu sudah merestui, tinggal usaha lagi', saya pun bilang ke ibu saya “beneran bu iti boleh berangkat?”, “kalau ada dananya ya ngga pa-pa berangkat aja, tapi ada temannya kan dari Indonesia?”, “ada bu” kata saya. Ibu saya lah pembakar semangat saya. Sejak hari itu, saya semangat mencari seluk beluk event tersebut seperti: siapa yang keterima, bentuk eventnya seperti apa, dll. Akhirnya saya tau ada teman satu komunitas saya (Youth for Climate Change) yang lulus event itu, saya cerita-ceritalah terkait proposal dan berharapnya kita bisa kerjasama untuk dapet sponsor, tapi rupanya domisilinya di Surabaya dan dia waktu itu sedang ada event juga jadi ga bisa langsung bikin proposal. setelah beberapa hari saya nge-kepoin tentang event itu, barulah saya tau kalau delegasi Indonesia sudah bikin grup sendiri untuk membahas masalah proposal dan kebutuhan lainnya.

Awalnya kami membuat proposal menjadi satu kelompok, namun karena kami dari beragam universitas dan domisili, akhirnya kami bergerak sendiri dan mencoba mencari partner sendiri. Awalnya saya berpartner dengan teman yang dari UI, namun ia keburu give up n akhirnya saya berpartner dengan Gita dari UIN Jakarta.

Kami berpartner untuk menyebar proposal ke 4 tempat, yaitu: Pertamina, Mandiri, ACT, British. Tapi dari ke empat itu hasilnya nihil. Saya juga mencoba ke Pemda Kab. Bekasi. Kantornya itu yaa, jauuuuuh sekali. Mungkin kalau saya disuruh milih ke Jakarta atau ke kantor pemda, saya akan milih ke Jakarta. Sudah jauuuh, sepi pulaa. Saya dulu pernah kesana sekali waktu ayah saya masih hidup, itupun juga dengan motor. Jadi, ibu saya ngga yakin kalau saya kesana sendiri apalagi ibu saya tau itu jauh, sepi dan saya juga ga tau betul tempatnya. Akhirnya saya kesana berdua dengan ibu saya, alasan ibu saya sekalian ngurusin akte adik saya. Dan kami berhasil kena tipu sama supir angkot karena kami tidak tahu jalan, yang seharusnya kami Cuma naik 3 kali kendaraan jadinya harus 4 kali kendaraan dan ongkosnya lebih mahal dong tentunya apalagi kami berdua. Sesampainya di pemda, saya ke kantor bupati dan ibu saya ke bagian pembuatan akte. Hari itu saya hanya meletakkan proposal dan diberikan surat untuk nantinya saya bawa pas follow up ke sekda dan berkas akte lahir adik saya juga kurang lengkap jadi ibu saya pun harus ke pemda lagi. Kami pun pulang dengan cuaca yang sedang hujan saat itu.

Lima hari kemudian saya kesana dan lagi-lagi bersama ibu saya hanya untuk follow up proposal. Rupanya proposal saya belum di disposisi sama sekda. Dan kami pun pulang tanpa membuahkan hasil, dan saya merasa, sepertinya saya hanya menghabiskan uang ibu saya untuk ongkos kami ke pemda.

Ketiga kalinya saya ke pemda, hampir saja saya pulang dengan sia-sia kalau saya tidak cerewet menanyakannya ke sekda karena mereka ngira proposal saya belum didisposisi, padahal proposal saya sudah didisposisi ke dinas pendidikan. Sebuah kemajuan dong… saya pun langsung ke dinas pendidikan, namun respon mereka kurang ramah ke saya dan saya lamaa sekali menunggu keputusan dari proposal saya hari itu juga, tapi kata mereka dipelajari dulu ya sama ketua dinas pendidikan. Okee, saya pun menjemput ibu saya yang sedang mengurus akte adik saya. Alhamdulillah urusan adik saya selesai dan urusan saya juga setidaknya ada peningkatan hari itu.

Keempat kalinya, saya berangkat ke pemda sendiri, tidak ditemani oleh ibu saya. Sesampainya di pemda saya langsung ke dinas pendidikan dan rupanya proposal saya dioper ke bagian SMA, dibagian SMA saya menunggu orang yang menangani proposal saya, lamaa sekali. Dan ketika bertemu beliau, dia bilang di dinas pendidikan ga ada dana, coba ke dinas sosial soalnya sekarang dana itu Cuma ada disatu pintu dan itu di dinas sosial. Ya sudah saya langsung ke dinas sosial dong mumpung masih di komplek pemda, tapi sebelum saya ke dinas sosial dengan membawa proposal yang sudah didisposisi, kertas disposisinya dicopot sama bapak itu, kata bapak itu "kamu coba ke dinas social ya tapi kertas ini ga usah dibawa". Saya pun sampai  di dinas sosial setelah nyasar ke kantor lain, di dinas sosial saya ditanya kertas disposisi yang dicopot waktu di dinas pendidikan, nah akhirnya saya kembali ke dinas pendidikan mengambil kertas tersebut. Tapi pas saya balik ke dinas sosial, sekretarisnya yang akan mengurus proposal saya lagi rapat sampai 4 jam ke depan. Mau ga mau saya nunggu dong, daripada urusan saya ga selesai-selesai soalnya itu udah seminggu sebelum acara dan saya ga megang uang sama sekali, jadi saya belum beli tiket pesawat dan mengurus visa. Ada ibu-ibu di dinas sosial ramah banget sama saya, saya dikasih minum dan ditawarin makan. Mungkin dia kasihan ngelihat saya kelamaan nunggu, dia pun menyuruh saya ngobrol ke bapak-bapak yang baru datang. Kata bapak itu, ini berarti kegiatannya bagian dari BPBD bukan bagian dinas sosial tapi saya tetap bilang kalau dari dinas pendidikan saya di oper kesini. Bapak itu menawari saya ke BPBD dulu sembari nunggu sekretaris dinas sosial. Yasudah saya pun ke BPBD, namun setelah proposal saya diperiksa, proposalnya ditolak karena didisposisinya bukan ke BPBD. Saya pun balik lagi ke dinas sosial dan Alhamdulillah sekretaris dinas sosial sudah selesai rapat. Tapi beliau menolak proposal saya karena lagi-lagi disposisinya tidak sesuai, beliau mengatakan kalau bagian SMA tidak berhak mengeluarkan disposisi ke dinas sosial karena mereka sub bagian dari dinas pendidikan dan yang berhak mengeluarkan disposisi ke dinas sosial hanyalah sekretaris daerah. Okee, masuk akal juga.

Akhirnya saya balik lagi ke dinas pendidikan dan bertemu dengan bapak yang tadi menyobek kertas disposisi saya. Mungkin mereka kaget saya masih ada dilingkungan pemda, saya pun diajak ngobrol dengan beliau dan salah satu temannya, mereka se-suhu dan bilang (kurang lebihnya seperti ini) “saya mah kasian sama kamu. Disinimah ga ada dana. Dan ga ada anggarannya juga. Dulu aja pernah ada juga kayak kamu gini tapi ga berhasil. Ga dapat dana sama sekali”. Oh my god, coba bayangin, kita lagi dalam keadaan butuh dan semangat-semangatnya untuk berusaha, ngedenger kata-kata itu nyeseklah pastinya. Jujur itu air mata udah hampir jatuh pas bapak tu ngomong kayak gitu. Tapi saya masih berusaha dan bertanya, “kalau saya ngajuin proposal lagi ke kantor bupati masih bisa kan pak?”. Kata bapaknya “yah neng, dulu aja saya sampai nganterin mahasiswa kayak neng ngurus beginian ke kantor bupati ga juga dikasih”. Ya ampuun, susah juga ngomong sama bapak ini, kata-katanya negative seakan pemda engga punya dana. Okee, akhirnya perjuangan saya dengan ibu saya bolak-balik ke pemda seperti ini hasilnya dan ketika saya ingin membawa proposal saya pulang, saya langsung dipanggil sama bapak itu untuk meninggalkan proposal saya disana.

Perjuangan saya dengan ibu saya mengurus proposal ke pemda dan juga mengorbankan kegiatan PKM, berakhir seperti ini. Ketika kedua kalinya saya ke pemda tanpa hasil apapun, saya hampir saja menangis di depan ibu saya. Tapi saya berusaha menahannya, saya tau ibu saya pasti lebih sedih kalau saya menangis.

Ketika masa-masa itu, saya berusaha berpikiran positif. ‘wah ibu saya mau mengantarkan saya dan sudah meminta doa ke teman-temannya, berarti beliau yakin dengan keberangkatan saya’, teman-teman saya pun mendukung saya sepertinya mereka yakin saya berangkat padahal saya tidak memiliki uang atau tabungan sepeserpun untuk berangkat. Saya pun bertekad ‘orang tua dan teman-teman saya yakin saya bisa berangkat, masa saya sendiri ga yakin. Saya pasti bisa berangkat!’.

Ketika masa-masa itu sedang musim hujan, tidak jarang saya menerobos hujan saat itu dan tentunya juga sedikit mengganggu aktivitas saya. Namun saya berpositive thinking ‘Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengijabah doa saya, karena salah satu doa yang di ijabah adalah doa ketika hujan’

Ketika teman-teman saya sudah membeli tiket pesawat dan mengurus visa, saya masih mencari sponsor dan banyak sponsor saya menolak. Ketika itu saya berusaha berprasangka baik ‘Allah lagi memantaskan saya untuk berangkat ke Jepang’. Segala sesuatu yang kita dapatkan pasti harus ada usaha yang maksimal, jadi saya pun mencoba untuk menikmati masa-masa itu.

Dan ketika pemda memperlakukan saya seperti itu, ada sedikit rasa syukur menghinggapi diri saya. ‘apakah saya di dzhalimi? karena beberapa teman saya ada yang mendapatkan dana dari pemda dan bahkan ada yang dibiayai full 20 jt. jika iya berarti saya memiliki kesempatan untuk Allah mengabulkan doa saya, karena doa orang yang di zhalimi termasuk doa yang di ijabah Allah’. Saya tidak mendoakan keburukan untuk orang-orang yang mendzhalimi saya, tetapi saya meminta kebaikan untuk diri saya. Saya meminta agar Allah mencukupi kekurangan yang saya butuhkan untuk berangkat ke Jepang.

Saya juga tidak lupa untuk memohon ampuun kepada Allah atas kekhilafan saya ketika pertama kali mendapatkan email diterimanya saya diacara ini, walau bagaimanapun event ini adalah salah satu nikmat yang dberikan Allah kepada saya, kenapa saya waktu itu merasa sombong dan kurang bersyukur.

Dan saya sangat bersyukur memiliki orang tua seperti Ayah dan Ibu saya. walau ayah saya sudah tidak ada, namun pesan-pesan beliaulah yang selalu menguatkan saya untuk terus berjuang dan tidak patah semangat. Dan ibu saya, beliau sekarang sebagai tulang punggung keluarga dengan mengajar les dirumah. Beliau selalu mengatakan "minta sama Allah nak, Allah yang maha tahu kebutuhan kita". dan kata-kata itu memang benar adanya. ibu saya selalu menyokong dan memberi dukungan kepada saya, kalau ibu saya punya uang untuk membiayai kegiatan saya ke Jepang pasti beliau sudah memberikannya tanpa harus ikut repot-repot mondar-mandir mengantar saya ke pemda untuk minta dana. I'm so proud with you mom.

Saya dan Gita yang dari UIN sempat berandai-andai 'nanti kalau kita udah punya uang, kalau ada mahasiswa yang nyari dana untuk kegiatan internasional pengennya langsung dibantu'. karena kita sudah ngerasain bagaimana susahnya nyari dana. Tapi kata kakaknya gita, kalau langsung dapet dana juga ga seru soalnya ga ada tantangannya sama sekali dan justru prosesnya itu yang akan jadi pengalaman tak terlupakan untuk kita. beneer jugaa, intinya semuanya harus dimulai dengan USAHA. kalau saya lebih senang menyebutnya MEMANTASKAN DIRI UNTUK MENDAPATKAN APA YANG KITA INGINKAN. 

Komentar

  1. I am so proud of you, Dina :)) love you!

    BalasHapus
    Balasan
    1. i love you too riska, also, i am so proud of you riska...
      when we go to meet up? hehehe

      Hapus
  2. so desu ka?
    waaa kita punya titik balik perjuangan kita sendiri-sendiri yaaa. Semoga kedepannya bisa membawa berkah bagi orang lain. Ganbaro!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINOPSIS KOREAN DRAMA BIRTH SECRET [EPISODE 1, PART 2]

Pengalaman Mendaftar Beasiswa Kemenpora

GOES TO JAPAN PART 2