GOES TO JAPAN PART 3
World Conference on Disaster Risk Reduction
Haii reader, sebelum saya mendapatkan dana dan waktunya menuju hari H
semakin mepet, saya bilang seperti ini ke ibu saya “ibu kalau iti jadi
berangkat ke Jepang berarti Allah ngasih keajaibannya untuk iti”. Disaat yang
mepet seperti inilah Allah bekerja, yang kebanyakan orang menyebutnya
keajaiban. Oleh karena itu kita harus selalu berusaha dan jangan pernah
berhenti berharap kepada-Nya.
ini adalah agenda saya selama mengikuti kegiatan Children and Youth
Forum at The Third United Nation World Conference on Disaster Risk Reduction di
Sendai Jepang. Nah, mari kita bahas mengenai judul acaranya dulu. Awalnya saya
penasaran dengan kata ‘The Third’, berarti sebelumnya sudah ada dong ya yang
pertama dan keduanya, saya mengira ini agenda rutin setiap tahun karena ada
kata pertama, kedua dan ketiga tapi saya salah besar, ini bukan agenda rutin
setiap tahun melainkan 10 TAHUN SEKALI. Saya tau fakta ini juga setelah
mengikuti acaranya, dan saya pun semakin bersyukur bisa mengikuti kegiatan ini.
Sebelumnya saya berpikir, kalau tahun ini ga ada dana ke sana bisa ikut tahun
depan tapi ternyata ini kegiatan 10 Tahun sekali. Malah katanya the fourth nya akan
dilaksanakan tahun 2030, Woow sudah jadi apakah saya tahun 2030 itu ya? Dan masih
adakah umur saya pada tahun itu? Hahaha. Jadi, Konferensi pertamanya dimulai
tahun 1995, konferensi keduanya tahun 2005, dan konferensi ketiganya tahun
2015. Kenapa harus tahun 2030 untuk konferensi ke empatnya? Pasti semua sudah
pada tau dong kesepakatan antarnegara PBB yaitu MDGs (Millennium Development Goals) yang dimulai dari tahun 2000-2015
namun kedelapan tujuan MDGs ini masih ada yang belum tercapai dengan baik
padahal sekarang sudah masuk tahun 2015, jadi PBB memperpanjang kesepakatan ini
dengan nama Post 2015 MDGs dimulai dari tahun 2015 sampai tahun 2030, oleh
karena itu konferensi ke empatnya akan dilaksanakan tahun 2030 untuk sekalian
membahas sekaligus merancang kesepakatan baru setelah Post 2015 MDGs. Lanjut
pada kata ‘Disaster Risk Reduction’, jadi, yang mengadakan kegiatan ini adalah
United Nation International Strategy for Disaster Risk Reduction yang sudah
menjadi bagian dari PBB sejak tahun 1999 sebelumnya namanya adalah ISDR yang
memang fokus menangani terkait kebencanaan. Okee, lanjut ke kalimat yang paling
membuat saya bingung plus ragu, hehehe.. yaitu ‘Children and Youth Forum’, judul
ini memiliki dua event yang berbeda, yang satu forum dan yang satunya
konferensi. Tapi yang jelas, yang paling menjual dari judul ini adalah United
Nation, hahaha.. dan United Nation itu kegiatannya ya konferensi. Lalu kenapa
harus ada Children and Youth Forum? Apakah acara yang saya ikuti berbeda dengan
acara konferensi PBB? Apakah panitia menaruh kalimat United Nation World
Conference hanya untuk mempromosikan acara Children and Youth Forum saja? Secara,
acara selevel PBB itu bukan acara yang sembarangan dan hanya orang-orang
tertentu yang bisa ikut. Setelah saya mengikuti rangkaian acara, barulah saya
paham kalau Children and Youth merupakan partner dari United Nation yang kita
sebut sebagai Majors Groups, Majors Group terdiri dari 9 Majors dan mereka
sudah ada sejak tahun1992. Ada 4 empat majors yang memiliki kegiatan atau forum
di World Conference ini. Jadi kami terdaftar sebagai peserta Children and Youth
Forum dan juga terdaftar sebagai peserta United Nation World Conference.
10 Maret 2015
10 Maret 2015
Saya bersama Gita dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berangkat pukul
08.30 menuju bandara Haneda Tokyo dengan sekali transit di Kuala Lumpur. Di
Kuala Lumpur saya bertemu dengan Emma dari Universitas Negeri Semarang dan
Dhiya dari Universitas Gajah Mada, kami berempat menaiki pesawat yang sama dari
Kuala Lumpur ke Haneda Tokyo pukul 14.45.
Sesampainya di Airport sekitar pukul
22.30, kami dijemput oleh ibu donator beasiswanya Gita (sebenarnya Gita dong
yang di jemput, hehehe). Ibu tu baik banget, padahal Gita sama ibu itu baru
pertama kali ketemu di airport tapi yang namanya ukhwah, mereka seperti sudah
lama saling kenal. Ibu tu mengajak kita berempat menginap dirumahnya, dan kami
langsung naik mobil dari bandara ke rumah beliau. Awalnya saya kira mobil yang
kita naiki tadi adalah taksi semacam silver bird karena mobilnya sejenis alphard
gitu dan orang jepang sendiri jarang yang punya supir apalagi orang Indonesia. Tapi
saya salah sodara, itu memang mobil ibu tu dan orang jepang yang mengendarai
mobil tersebut adalah supir pribadi keluarga beliau. Kami tiba dirumah beliau
sekitar pukul 01.00 karena terlalu lama di bagian imigrasi bandara. Ya ampuun
rumahnyaa, baguus bangeet. Hahaha.. Karena sudah malam dan beliau tau kami
lapar plus capek, beliau memberikan kami coklat dan pisang untuk pengganjal
perut, lagipula sudah malam dan kami juga ga begitu nafsu untuk makan. Dan inilah
malam pertama saya d Jepang, tidur dikasur empuk dan hangat padahal rencana
awalnya saya tidur bandara. Itulah Allah Sang Maha Pengatur dan Merencanakan.
gita, emma, aku, dhiya (dari kiri ke kanan)
Nah jadi, keluarga yang baik ini, sudah searching mengenai kendaraan
yang harus kami naiki sampai ke Sendai Station dan rekomendasi mereka adalah
Shinkansen. Pas dibandara ibu itu sudah bilang kalau kendaraan ke sendai itu
naik shinkansen, tapi saya langsung bilang ke ibu itu kalau bisa juga naik bus
tapi harus pesan online dan bayarnya pake kartu kredit. Ya ampuun saking
baiknya ya, ibu itu sampai nanya ke loket bus dibandara ada ga bus yang ke
Sendai tapi mereka bilang ga ada, dan memang bus yang saya tahu itu satu-satunya
yang ke Sendai dan daftarnya juga via online, jadi ga banyak yang tau
sepertinya.
saya langsung berhitung, kalau naik bus aku mungkin Cuma mengeluarkan uang 4.000 yen tapi kalau naik shinkansen aku harus mengeluarkan uang 11. 200 yen sedangkan aku Cuma punya uang 21.000 yen, kalau dipotong naik shinkansen uangku tinggal 9.800 yen, belum lagi beli tiket ke Tokyo yang rencananya pengen naik bus aja biar murah sekitar 4.000 yen jadi uangku tinggal 5.800 yen, selesai acara tanggal 18 sedangkan aku balik ke Indonesia tanggal 22, cukupkah bertahan hidup 4 hari di Jepang dengan uang 5.800 yen atau sekitar Rp. 600.000? (Indonesia insya allah cukup banged) hahaha.. ya saya serahin sama Allah saja, kalau memang ditakdirkan naik shinkansen ya Alhamdulillah tapi saya harus mencari mangsa untuk minjem uang ke teman Indonesia karena ga mungkin cukup juga 5.800 yen untuk 4 hari di Jepang yang merupakan Negara dengan biaya kebutuhan hidup tertinggi. Apalagi selama 4 hari setelah acara, saya kemungkinan akan tinggal di Tokyo karena dekat dengan bandara Haneda, yang pada tahun 2011 menjadi kota nomor satu yang biaya kebutuhan hidupnya termahal di dunia.. hekkk.. hahaha.. (ga mungkin juga saya nginep ditempat ibu yang baik hati ini kalau ga ada Gita soalnya ibu tu kenalnya sama Gita sedangkan Gita sudah balik ke Indonesia tanggal 19, dan saya karena telat banget mesan tiket pesawat, tanggal 19 itu harga tiketnya 5 juta paling murah, dan lebih murah lagi tanggal 22. Positive thinking saja sama Allah, pasti Allah telah merencanakan hal terbaik untuk saya).
saya langsung berhitung, kalau naik bus aku mungkin Cuma mengeluarkan uang 4.000 yen tapi kalau naik shinkansen aku harus mengeluarkan uang 11. 200 yen sedangkan aku Cuma punya uang 21.000 yen, kalau dipotong naik shinkansen uangku tinggal 9.800 yen, belum lagi beli tiket ke Tokyo yang rencananya pengen naik bus aja biar murah sekitar 4.000 yen jadi uangku tinggal 5.800 yen, selesai acara tanggal 18 sedangkan aku balik ke Indonesia tanggal 22, cukupkah bertahan hidup 4 hari di Jepang dengan uang 5.800 yen atau sekitar Rp. 600.000? (Indonesia insya allah cukup banged) hahaha.. ya saya serahin sama Allah saja, kalau memang ditakdirkan naik shinkansen ya Alhamdulillah tapi saya harus mencari mangsa untuk minjem uang ke teman Indonesia karena ga mungkin cukup juga 5.800 yen untuk 4 hari di Jepang yang merupakan Negara dengan biaya kebutuhan hidup tertinggi. Apalagi selama 4 hari setelah acara, saya kemungkinan akan tinggal di Tokyo karena dekat dengan bandara Haneda, yang pada tahun 2011 menjadi kota nomor satu yang biaya kebutuhan hidupnya termahal di dunia.. hekkk.. hahaha.. (ga mungkin juga saya nginep ditempat ibu yang baik hati ini kalau ga ada Gita soalnya ibu tu kenalnya sama Gita sedangkan Gita sudah balik ke Indonesia tanggal 19, dan saya karena telat banget mesan tiket pesawat, tanggal 19 itu harga tiketnya 5 juta paling murah, dan lebih murah lagi tanggal 22. Positive thinking saja sama Allah, pasti Allah telah merencanakan hal terbaik untuk saya).
Pagi harinya setelah sarapan bubur ayam, kami diantar oleh bapak dan ibu baik hati ini ke station tapi ibu ga sampai stasiun karena harus kerja. Jadi sekarang gantian, kemarin ibu yang menjemput kami dan sekarang bapak yang mengantarkan kami. Sesampainya di stasiun, bapak juga turun dan menyuruh kami menunggu sebentar karena beliau akan beli tiket. Alhamdulillaah, keluarga yang baik hati itu membelikan kami tiket shinkansen. Pas dapet tiket itu yaa, saya rasanya udah kaya mo nangis beneran soalnya sampai kepikiran banget harus naik shinkansen pake duit sendiri sedangkan duitnya juga pas-pasan. Banguun tidur yang pertama terlintas dibenak saya langsung ‘lebih dari setengah uang saku saya harus saya keluarkan hanya untuk biaya transport padahal baru sehari di Jepang dan masih ada 11 hari lagi’. Hahaha..
ini suasana ketika kami berkumpul di Sendai Station dan hendak naik bis
Setelah puas mengambil beberapa gambar, barulah kami melanjutkan perjalanan ke akomodasi sekitar sejam perjalanan. Sesampainya di tempat akomodasi dan setelah pembagian kamar, seluruh peserta berkumpul di Aula untuk lebih mengenal Disaster Risk Reduction dan kebijakan post 2015 tentang Disaster Risk Reduction (DRR).
Setelah sesi pengenalan DRR dan makan malam, selanjutnya adalah sesi memorial Tsunami yang terjadi di sendai 4 tahun yang lalu, lebih tepatnya tanggal 11 Maret 2011.
Oiya saya sampai lupa, setibanya di Sendai Station kami langsung disambut oleh salju, pas di Sendai International Center jugaa. Saya dan beberapa teman lainnya yang pertama kali melihat salju merasa senang sekali. Pada malam harinya salju turun sepanjang malam itu. Saya kira, karena posisi Sendai di atas Tokyo yang otomatis lebih dekat dengan kutub yang menyebabkan turun salju. Namun kata mba Nita yang merupakan mahasiswi exchange di Sendai, sebelum kami datang sudah ngga ada salju lagi dan suhunya juga diatas nol derajat tapi Alhamdulillah memang rezeki kami bisa melihat salju. Dan memang sebelum berangkat ke Jepang saya pernah bilang gini ke ibu saya “ibu mudah-mudahan iti masih bisa ngelihat salju ya bu dan bisa ngelihat bunga sakura juga”
12 Maret 2015
(suasana pagi)
Kegiatan hari ini dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok 1 mengunjungi daerah bencana di Minami-Sanriku, Kelompok 2 mengunjungi daerah bencana di Ishinomaki, Kelompok 3 mengunjungi daerah bencana di Yuriage, Kelompok 4 menjadi team Advokasi yang merancang pembuatan kebijakan untuk 10 tahun kedepan, Kelompok 5 menjadi team media yang nantinya mempublikasikan hasil kebijakan yang telah dibuat oleh team advokasi. Saya masuk ke kelompok 3 yang berkunjung ke daerah bencana di Yuriage. Yuriage adalah daerah pesisir di sebelah tenggara Sendai, ketika tsunami terdapat 1.027 korban dan 119 orang hilang. Kunjungan pertama kami di Yuriage adalah Memoire de Yuriage yaitu museum pengarsipan dokumen dan foto-foto yang terjadi ketika tsunami terjadi.
Disini peserta menonton film ketika terjadinya tsunami di Yuriage, mendengarkan cerita dari korban tsunami dan melihat dioramas yaitu miniatur 3 dimensi yang dibuat anak-anak di museum ini.
Setelah itu kami berkunjung ke Yuriage Junior High School yang letaknya 2 km dari laut, SD ini sudah tidak digunakan lagi karena kerusakan yang terjadi pasca tsunami. Tsunami terjadi pukul 14.46, ketika itu para siswa sudah hampir pulang. 14 siswa meninggal dalam bencana tsunami, untuk mengenangnya orang-orang membuat sebuah tugu yang berisi nama keempatbelas siswa yang meninggal. Selanjutnya kami mengunjungi Hiyoriyama Hill, disini terdapat kuil dan tugu berkabung dari perang kematian. Ketika terjadi tsunami semuanya hancur namun 3 bulan setelah tsunami dibangun kembali dan dibuatlah pagar ilahi menuju ke kuil ini. Didekat Hiyoriyama Hill terdapat The Cenotaph, yaitu tugu berbentuk tunas setinggi 8,4 m sama dengan ketinggian tsunami yang terjadi di tempat ini. Terakhir kami berkunjung ke International Reseach Institute of Disaster Science (IRIDeS) di Tohoku University. Disini kami mencoba simulasi gempa, menonton 3D gambaran gempa dan tsunami yang terjadi pada tahun 2011, mengunjungi tempat pengeringan surat-surat berharga yang telah rusak karena terkena bencana agar bisa dibaca kembali, mengunjungi labolatorium untuk menguji kondisi psikologi, otak dan pengetahuannya ketika dan pasca terjadinya bencana.
Oiya, menu makanan halal kami selama disana Cuma ada dua menu, nasi briani sama kari. Sarapan dan makan siang saya hari ini adalah nasi kari. Seharusnya makan malamnya juga nasi kari, tapi karena nasi karinya habis jadi kami yang muslim bisa ikut makan sushi tapi tanpa kuah hitamnya soalnya takut ada campuran B2 atau araknya.
Saya dan teman-teman saya yang muslim sarapan dengan sereal ini dan susu, kadang ditambah dengan pisang ataupun sup. Setelah sarapan, saya dan Dhiya izin keluar penginapan untuk ke convenience store, yaa sekalian jalan-jalan laaah. hehehe... dan rupanya penginapan kita berada di kaki bukit. pas kita sudah setengah jalan, turun salju. yeeey... tapi kita belum ketemu convenience store nya. hahaha.. aku sama dhiya cuma berpanduan dari apa yang dikatakan teman saja, kami ga mengandalkan GPS atau apapun itu. setelah lumayan jauh berjalan, kami pun ketemu convinience store yang gedee banget, mungkin bisa dikatakan swalayan lah n super lengkap pastinya. ketika kami mo masuk, kami batu sadar kalau itu belum buka. hahaha.. ya sudah, kami pun jalan terus dan akhirnya ketemu family mart, okelah walaupun family mart yang di indonesia juga ada, tapi barang-barangnya beda. hehehe.. pas balik kepenginapan kita ga lewat jalan yang tadi. jadi, jalan menuju penginapan kami berbentuk lingkaran, pas kami berangkat tadi ke arah kiri, dan pas baliknya muncul dari arah kanan penginapan. pas pulangnya,asli, itu dingiiin bangeet... saljunya lebaaat sekali dan ga ada juga yang jalan kaki waktu itu, cuma kami berdua. benar-benar hujan salju... tapi asyiik.. hehehe..
Sesampainya dipenginapan, Seluruh peserta berkumpul di Aula akomodasi pukul 11.00 untuk sesi Pecha Kucha, yaitu sesi presentasi peserta dengan durasi 3 menit 20 detik/orang untuk mempresentasikan komunitasnya. Salah satu peserta yang presentasi adalah dari komunitas Australian Youth in Emergency Management.
Setelah itu kita mempersiapkan diri untuk World Conference on Disaster Risk Reduction besok dan sorenya kita akan melakukan Opening Ceremony. Setelah makan siang dan sholat jumat, seluruh peserta menaiki mobil menuju Sakura Hall, Tohoku University dan sudah menggunakan pakaian nasional asal Negara masing-masing delegasi. Sebelum Opening Ceremony, kita terlebih dahulu mengikuti sesi berbagi pengalaman dengan Japanese yang pernah mengalami bencana, selanjutnya cultural night dan dinner, barulah opening ceremony.
sesampainya dipenginapan, kami, beberapa delegasi Indonesia, Philiphine, Brazil, Jepang pergi ke convenience store yang berbeda dari yang sebelumnya, yaitu ke sankus dan juga ke second street. awalnya yaa, aku ga tau apa itu second street, tapi barang-barangnya bagus-bagus dan murah. temanku saja membeli satu setel baju formal atas-bawah, harganya cuma sekitar Rp. 90.000 saja dengan kualitas yang bagus walaupun bukan barang baru. second street ini bener-bener toko yang sangat menggiurkan, banyak teman-teman yang niat awalnya ga mau belanja, eh malah belanja di second street. hahaha..
ini dhiya, pas ke convenience store kita ga sempat foto berdua, karena dingiin dan buru-buru
Sesampainya dipenginapan, Seluruh peserta berkumpul di Aula akomodasi pukul 11.00 untuk sesi Pecha Kucha, yaitu sesi presentasi peserta dengan durasi 3 menit 20 detik/orang untuk mempresentasikan komunitasnya. Salah satu peserta yang presentasi adalah dari komunitas Australian Youth in Emergency Management.
Setelah itu kita mempersiapkan diri untuk World Conference on Disaster Risk Reduction besok dan sorenya kita akan melakukan Opening Ceremony. Setelah makan siang dan sholat jumat, seluruh peserta menaiki mobil menuju Sakura Hall, Tohoku University dan sudah menggunakan pakaian nasional asal Negara masing-masing delegasi. Sebelum Opening Ceremony, kita terlebih dahulu mengikuti sesi berbagi pengalaman dengan Japanese yang pernah mengalami bencana, selanjutnya cultural night dan dinner, barulah opening ceremony.
sesampainya dipenginapan, kami, beberapa delegasi Indonesia, Philiphine, Brazil, Jepang pergi ke convenience store yang berbeda dari yang sebelumnya, yaitu ke sankus dan juga ke second street. awalnya yaa, aku ga tau apa itu second street, tapi barang-barangnya bagus-bagus dan murah. temanku saja membeli satu setel baju formal atas-bawah, harganya cuma sekitar Rp. 90.000 saja dengan kualitas yang bagus walaupun bukan barang baru. second street ini bener-bener toko yang sangat menggiurkan, banyak teman-teman yang niat awalnya ga mau belanja, eh malah belanja di second street. hahaha..
14 Maret 2015
ID Card
Pada hari ini dan seterusnya, inilah kartu ajaibku. dengan kartu ini, aku bisa mendapatkan fasilitas bus gratis, menaiki sepeda elektronik gratis, mengunakan tablet apple keluaran terbaru dan bisa dibawa ke penginapan, masuk ke sendai museum gratis dengan segala fasilitas didalamnya, bertemu orang-orang penting, disapa dan dihormati ketika memasuki Sendai International Center. Benar-benar kartu ajaib. Oiya, karena acara kami selalu diluar penginapan dan jaraknya cukup jauh sekitar kurang lebih 1 jam perjalanan dan dikhawatirkan kami menyasar, panitia pun memberikan kami kertas dalam bahasa Inggris dan Jepang yang isinya alamat penginapan kami. Jadi kalau kami hilang dan tidak bisa menggunakan bahasa Jepang, kami tinggal menunjukan kertas itu ke orang yang kami temui. menurut aku ini efektif dan lucu, efektif karena ga semua masyarakat Jepang ngerti bahasa inggris dan kita juga ga bisa bahasa jepang, lucu karena baru pertama kali juga yaa dapat beginan dan mereka detail juga sampai kepikiran buat beginian. hahaha..
Pukul 08.00 seluruh peserta sudah berangkat
menuju Tohoku university campus Kawauchi, untuk mengikuti serangkaian kegiatan
yang sangat padat dan berada di dua tempat yang berbeda, yaitu tohoku
university dan sendai international center. Pertama, saya mengikuti kegiatan di
Tohoku University tentang Climate Change Negotiations Simulation oleh Cecile
Pilot. Disini kami melakukan negosiasi terkait kebijakan perubahan iklim
berdasarkan Negara maju dan berkembang. Ketika simulasi saya masuk dalam Negara
china yaitu Negara berkembang yang memiliki emisi gas rumah kaca paling tinggi
dan diwajibkan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca. Selanjutnya saya
mengikuti sesi Seismic Risk Assesment-Understanding the Physical and Human Components. Melalui sesi ini saya
diberikan pemahaman tentang bahaya, resiko dan kecemasan lainnya ketika terjadi
bencana, dan diharapkan ketika terjadi bencana kita bisa mengurangi kecemasan
agar dapat menekan terjadinya resiko dan bahaya yang lebih besar dan bisa memberikan
solusi akan hal ini.
Selanjutnya saya mengikuti kegiatan di Sendai International Center hingga pukul 18.00, saya kembali ke tohoku university untuk mengikuti sesi Interconectivity between conflict, natural and biological disasters. Pukul 19.00 kami kembali ke akomodasi untuk mengikuti evening session yaitu Performance Workshop.
Selanjutnya saya mengikuti kegiatan di Sendai International Center hingga pukul 18.00, saya kembali ke tohoku university untuk mengikuti sesi Interconectivity between conflict, natural and biological disasters. Pukul 19.00 kami kembali ke akomodasi untuk mengikuti evening session yaitu Performance Workshop.
Kami berangkat pukul 08.00 dari
akomodasi dan kami mendapatkan revisi jadwal untuk hari ini, yaitu sesi bersama
sekjen PBB Ban Ki Moon khusus untuk seluruh peserta Children and Youth Forum
pukul 16.00. Pagi harinya saya mengikuti sesi Cultural, Social, and
Institutional Aspect of Preparedness dan dilanjutkan dengan sesi Investing in
Critical Infrastructure: Safe School and Hospitals. Di sesi ini saya banyak
bertemu dengan delegasi Indonesia dari ACT (Aksi Tanggap Bencana) dan dari team
evaluasi kemendikbud, bapak Dr. Harizal. Setelah makan siang, saya lanjutkan ke
sesi open data and tools for preparedness dan gathering with Japanese high
school students. Sesi selanjutnya adalah sesi bersama Ban Ki Moon, sebelum memasuki ruangan kami harus melakukan
daftar ulang lagi untuk menghindari penyusup dari media masa dan ruangan pun
sangat penuh baik dari kami peserta, dari media dan ajudan sekjen PBB. Acara
dibuka oleh Moa Hergard selaku ketua children and y outh, dilanjutkan dengan
sambutan dari perwakilan pemuda Jepang, Asia, Oceania, Amerika, Europa, dan
Africa
.
Barulah Ban Ki Moon, beliau mengatakan bahwa children and youth adalah penggerak atau mobilitas dari setiap kebijakan yang ditetapkan PBB karena pemuda memiliki semangat yang luar biasa. Sebelum meninggalkan ruangan saya berkesempatan untuk bersalaman dengan Ban Ki Moon, beliau sangat ramah dan menyalami setiap orang yang duduk dibagian pinggir. Setelah sesi Ban Ki Moon saya akan mengikuti sesi di Sendai International Center, namun seluruh peserta tidak dierbolehkan keluar karena Ban Ki Moon sedang diwawancarai diluar ruangan. Setelah beberapa saat barulah kami bisa keluar. Pada pukul 19.00 kami pun kembali ke Tohoku Local Government Training Center.
.
Barulah Ban Ki Moon, beliau mengatakan bahwa children and youth adalah penggerak atau mobilitas dari setiap kebijakan yang ditetapkan PBB karena pemuda memiliki semangat yang luar biasa. Sebelum meninggalkan ruangan saya berkesempatan untuk bersalaman dengan Ban Ki Moon, beliau sangat ramah dan menyalami setiap orang yang duduk dibagian pinggir. Setelah sesi Ban Ki Moon saya akan mengikuti sesi di Sendai International Center, namun seluruh peserta tidak dierbolehkan keluar karena Ban Ki Moon sedang diwawancarai diluar ruangan. Setelah beberapa saat barulah kami bisa keluar. Pada pukul 19.00 kami pun kembali ke Tohoku Local Government Training Center.
16
Maret 2015
ditempat inilah 187 negara berkumpul untuk membuat kebijakan selama 10 tahun kedepan dan meliputnya
Saya mengikuti sesi Information,
Access and DRR Communication, yaitu komunikasi dan akses penanggulangan bencana
terhadapa orang-orang yang memiliki kebutuhan khusus. Disini kami mendengarkan
cerita langsung dari seorang tunarungu yang pernah mengalami bencana gempa bumi, kami juga melakukan
simulasi sebagai orang yang memiliki kebutuhan khusus dan terjadi bencana.
Selanjutnya, saya mengikuti sesi di Sendai International Center.
Setelah makan siang saya mengikuti sesi bersama direktur UNICEF Anthony Lake di perpustakaan Tohoku University, dari 200 peserta saya terpilih dalam 20 peserta yang bertemu langsung dengan Anthony Lake. Pada sesi ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membicarakan tentang komitmen kami dalam penanggulangan bencana dan merancang komunitas penanggulangan bencana yang kuat. Anthony Lake berkunjung ke setiap kelompok untuk mengetahui dan membantu diskusi kami. Selanjutnya kami mempresentasikan hasil diskusi kami dan menuliskan komitmen kami. Selanjutnya saya kembali ke Sendai International Center untuk melanjutkan sesi selanjutnya.
Setelah makan siang saya mengikuti sesi bersama direktur UNICEF Anthony Lake di perpustakaan Tohoku University, dari 200 peserta saya terpilih dalam 20 peserta yang bertemu langsung dengan Anthony Lake. Pada sesi ini, kami dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membicarakan tentang komitmen kami dalam penanggulangan bencana dan merancang komunitas penanggulangan bencana yang kuat. Anthony Lake berkunjung ke setiap kelompok untuk mengetahui dan membantu diskusi kami. Selanjutnya kami mempresentasikan hasil diskusi kami dan menuliskan komitmen kami. Selanjutnya saya kembali ke Sendai International Center untuk melanjutkan sesi selanjutnya.
Kami berkunjung ke Sendai Museum, belajar membentuk origami,
menggambar patung, menulis dengan huruf kanji, merangkai bunga, mencoba kimono dan mengambil
makanan khas Sendai sepuasnya. Kami berada di Sendai Museum hingga waktu makan siang. Setelah itu kami berangkat ke Miyagi
Educational University Hall untuk melakukan Closing Ceremony. Sebelumnya kami
mengumpulkan data profil kami berdasarkan benua asal Negara kami untuk
memudahkan kami nantinya membuat komunitas setelah kegiatan berakhir. Acara
Closing Ceremony dihadiri oleh Mrs. Akie Abe, First Lady of Japan.
18 Maret 2015
Keberangkatan dari Akomodasi Tohoku
Local Government Training Center ke Stasiun Sendai, chek out pada pukul 08.00.
I miss them so much...


































Komentar
Posting Komentar