Tokyo, I'm here.. (part 1)




Okay, now I am traveler.
Awalnya sesudah Konferesi saya hanya ingin menyempatkan 1 hari saja untuk berjalan-jalan namun Allah memiliki rencana yang lebih baik untuk saya. Dikarenakan tiket yang mahal pada tanggal 19 dan hari berikutnya, akhirnya saya mengambil tiket pulang ke Indonesia tanggal 22 Maret dan Alhamdulillah salah satu delegasi asal Riau yang bernama Rika juga balik ke Indonesia pada tanggal yang sama. Akhirnya aku punya teman menjelajah. Selama konferensi, Rika tinggal dengan Nita, mahasiswa exchange program asal UNY. Kami hanya bertemu di lokasi Konferensi dan rupanya Laily, mahasiswa gizi UI yang kamarnya bersebelahan denganku juga akan ikut menjelajah dengan kami.
Rika berbaik hati untuk membantuku membelikan tiket Willer bus ke Tokyo, Willer bus adalah bus malam antar kota dan pemesanannya hanya dilakukan secara online, pembayarannya pun hanya bisa menggunakan kartu kredit.

18 Maret 2015
Sesampainya di Stasiun Sendai, aku dan Laily menunggu kedatangan Rika dan Nita. Kami janji bertemu pukul 13.00 di Stasiun Sendai, namun aku, Laily dan peserta Konferensi lainnya yang satu penginapan denganku sampai Stasiun Sendai jam 08.00. Aku dan Laily mencari tempat duduk yang kemungkinan mudah dicari oleh Rika dan Nita. Rupanya banyak warga lokal yang hanya sekedar duduk-duduk di depan Sendai Station. Stasiun di Sendai ini seperti mall kalau di Indonesia, luas, bersih, memiliki 3 lantai, memiliki escalator, banyak penjual makanan, dan didepan belakangnya ada beberapa mall yang menjual baju dan alat elektronik, tapi hebatnya sama sekali tidak ada kemacetan di sini. Indra, delegasi asal Semarang bercerita “Kata kakek pengrajin batu di Sendai Museum kemarin, Tokyo itu bukan Jepang. Banyak sekali yang telah berubah dari Tokyo”, memang sih sendai itu ngga seterkenal Tokyo, Kyoto, Osaka, Kobe dan Sapporo tapi jika ingin menikmati suasana alami kehidupan masyarakat Jepang tanpa hiruk pikuk wisatawan disinilah tempatnya, Whaa makin sedih ninggalin Sendai. Awalnya aku senang mengamati masyarakat yang lalu lalang dengan beragam aktivitasnya namun lama kelamaan aku bosan dan mondar-mandir kesana-kemari. Laily menyarankan ku untuk jalan-jalan ke salah satu mall yang di dalamnya tersedia barang-barang KW, Tokonya berbeda dengan toko penjual barang-barang KW di dekat penginapan. Laily sudah pernah ke sana sebelumnya, dan menjelaskan kalau jaket yang ia gunakan dibelinya di toko tersebut dengan harga sekitar Rp. 20.000. Aku pun penasaran, Laily berbaik hati menjaga barang-barangku. Dengan berjalan kaki, sampailah aku di mall tersebut.
Toko yang aku kunjungi ini memang lebih lengkap dari toko yang ada di dekat penginapan namun barang-barangnya kebanyakan berupa jaket, ya mungkin karena sekarang musim dingin. Karena toko tersebut di dalam mall, aku pun mengunjungi beberapa toko lain. Ada salah satu toko yang menjual barang-barangnya 50 yen, ya seperti toko serba 5000 tapi bukan Daiso namanya. Pengeen sekali aku membeli cangkir khas Jepang dengan harga semurah itu, tapi aku teringat kalau tidak membeli bagasi. Okee akhirnya ku tahan keinginanku itu. Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku beli di toko tersebut, yaa tapi mau gimanaa lagi..
Bosan hanya melihat-lihat ditoko tersebut (sebenarnya khawatir kalau semakin tergiur untuk membeli), akhirnya aku kembali ke Sendai Station. Rupanya Laily juga sedang bosan, aku tawari untuk gentian, dia yang berjalan-jalan dan aku yang menjaga barang-barang tetapi dia tidak mau. Melihat banyak burung merpati, Laily mengeluarkan biscuit dan menghancurkannya lalu ia berikan ke burung tersebut. Walhasil, banyak sekali burung merpati yang singgah di depan tempat kami duduk. Awalnya aku senang, namun lama kelamaan karena banyak orang yang memperhatikan kami, aku pun khawatir jika ada peraturan yang melarang memberikan makanan ke burung di tempat umum, karena aku memperhatikan burung merpati tersebut sehabis makan langsung buang air. Hahaha.. Tapi alhamdulillahnya tidak ada seorang pun yang menegur kami. Tidak lama kemudian Rika dan Nita pun tiba. Mereka seharusnya ke Sendai Museum terlebih dahulu, namun karena melihat kami sudah bosan akhirnya mereka memilih balik lagi ke penginapan untuk mengantar kami beristirahat. Tidak hanya sekedar mengantar, tetapi Nita menyiapkan kami makan siang dan barulah mereka pergi lagi. Woow, you’re very nice Nitaa.
Setelah sholat dzuhur dan makan siang, rupanya Laily dapat sms dari temannya untuk membelikan oleh-oleh. Tidak lama setelah itu, tinggallah aku sendiri di penginapan tersebut. Zzzz. Menjelang magrib, ada seorang lelaki yang menggedor pintu kamar memanggil Rika. Aku pun mengintip dilubang kecil yang ada di pintu (rupanya lubang tersebut tidak hanya ada di drama the flower next door, hahaha). Lelaki tersebut rupanya orang Indonesia dan satu kegiatan dengan kami. Ketika aku akan membuka pintu, pintunya hanya terbuka setengah karena ada pengganjalnya. Aku bingung untuk membukanya dan lawan bicaraku juga bingung membukanya. Akhirnya ia turun ke bawah untuk menanyakan caranya ke teman sekamarnya. Hahahaha.
Tidak lama kemudian kami pun mengobrol membicarakan hostel yang akan ditempati selama di Tokyo. Sebenarnya ia sudah memesan hostel dan menawarkan kepadaku dan Laily untuk menginap di hostel tersebut juga. Namun ketika kami mengecek hostel tersebut secara online, rupanya pemesanannya sudah penuh. Aku sih sebenarnya masih bingung mo nginep dimana selama di Tokyo, dan aku sama sekali dalam hidupku tidak pernah memesan hotel atau pun hostel. Jadi aku masih perlu konsultasi dulu dengan Rika, Nita dan terutama Laily. Setelah obrolan panjang dan menguras pikiran (menurutku, hahaha.), akhirnya aku putuskan untuk menyewa hostel dengan biaya 2800 yen semalam. Aku pun memesan untuk dua malam dan dengan bantuan teman Nita, akhirnya jadilah reservasi hostel tersebut malam itu juga.

19 Maret 2015
Keesokan harinya, cuaca diluar hujan. Mungkin alam juga tau kalau kami sedih meninggalkan Sendai (Lebaay.com). Nita mempersiapkan banyak sekali makanan untuk sarapan dan untuk bekal makan siang kami. (Nitaa, you are like our mom) Aku meminta beberapa gelas beras untuk aku masak nantinya dipenginapan, sebenarnya aku juga ngga enak mintanya karena dia baik banget. Tapi Nita malah menambah lagi beras yang sudah aku ambil karena menurutnya itu sedikit.
Kami pun berangkat ke Sendai Station, karena bawaan kami banyak dan berat, banyak sekali kejadian lucu yang kami alami di dalam Bus menuju Sendai Station. Awalnya, Karena bus yang ngerem mendadak, koper yang aku ganjel dengan kakiku melucur dengan bebas ke depan dan untungnya ada lelaki separuh baya yang membantu meletakkan koperku ke posisi semula. (Maluuu abisss karena kondisinya lumayan ramai) Setelah itu, goddy bag yang dipegang Rika jebol karena basah dan itu isinya minuman yang kami dapatkan di Sendai Museum, walhasil minuman-minuman tersebut meluncur bebas kemana-mana dan untungnya bus tersebut mulai sepi.
Sesampainya di Sendai Station, kami melanjutkan perjalanan ke stan Willer bus dengan kondisi gerimis. Sesuai dengan waktu yang tertera di tiket, kami pun mengantri untuk menaiki bus tersebut. (Budaya mengantri, hmmm patut ditiru) Kami masuk sesuai nomor bangku yang tertera di tiket dan ada salah satu petugas yang mengabsen kami. Kesan pertamaku pada bus ini, Kereen dan unik. Kursinya di desain unik demi kenyamanan kami dan memang benar-benar nyaman, perjalanan 8 jam yang kami tempuh sangat tidak terasa.
Sesampainya di Tokyo, kami bertemu dengan salah satu temannya Rika yang kebetulan sedang exchange program S2, Kak Fani namanya. Kak Fani tidak kalah baiknya dengan orang-orang Indonesia yang pernah aku temui di Jepang. Beliau memandu kami untuk sampai ke hostel tempatku menginap. Alat Transportasi yang banyak digunakan di negeri Sakura ini adalah kereta, oleh karena itu banyak sekali jenis kereta di sini. Coba saja salah naik kereta, bisa ngga bisa pulang. Orang Jepang sendiri, tidak hafal dengan stasiun yang biasa ia lewati. Ya seperti jika dari bogor hendak ke kota, jika ditanya manggarai dimana, mereka tidak tahu padahal mereka sering melewati stasiun tersebut. Dan keesokan harinya, aku mengalami hal tersebut memang benar adanya.
Setelah menaruh koper, makan siang dengan bekal dari Nita dan mengurus administrasi hostel, kami pun melanjutkan perjalanan ke Asakusa Tample yang tidak terlalu jauh, hanya 1 stasiun dari hostelku. Objek wisata terkenal di Tokyo ini memang sangat menarik para wisatawan. Selain menjajakkan aksesoris dan makanan khas Jepang serta kuil yang megah, kita juga bisa menikmati pemandangan skytree.


Setelah puas berfoto-foto dan melihat-lihat, kami pun pulang. Sebelum sampai stasiun, kami mampir ke kedai kebab turki. :)

Komentar:
Maaf baru bisa update setelah setahun, balada mahasiswa tingkat akhir saat itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINOPSIS KOREAN DRAMA BIRTH SECRET [EPISODE 1, PART 2]

Pengalaman Mendaftar Beasiswa Kemenpora

GOES TO JAPAN PART 2