Tokyo I'm here... (part 2)

Banyak orang mengatakan ilmu itu tidak hanya ada di dalam kelas tetapi dimana pun. Dan memang benar adanya. Belajarlah dari siapapun dan dimanapun. Jadilah pemuda yang hunger knowladge.


20 Maret 2015
Semalam, kami berjanji untuk bertemu di Odaiba jam 08.00. Namun, karena suasana hostel yang hangat aku pun ketiduran dan baru bangun jam setengah 9. Ku lihat HP, rupanya banyak panggilan tak terjawab dari kak Fani, aku pun langsung mengabarkan kalau baru bangun tidur. Zzzzz.. Setelah beres-beres, aku langsung ke stasiun. (I’m alone) terasa bangeet sendirinya, pas mesen tiket kereta melalui mesin dan berhasil, senangnya minta ampuun. Tapi pas mau naik kereta, takut banget nyasar. Hahaha.. Lumayan lama di stasiun, bukan karena nunggu kereta tetapi memperhatikan apakah aku sudah berada dijalur yang benar. Setelah merasa yakin, aku pun naik kereta. 10 menit pertama aku mengamati sekelilingku, aku tersadar bahwa kereta yang aku naiki tidak lagi terletak dibawah tanah dan aku langsung khawatir karena dengan bahasa Jepang terdengar suara informasi menyebutkan Narita Airport. OHh my God, aku salah naik kereta dan aku berlawanan arah dari tujuan awalku. Patokanku, Odaiba dekat dengan Haneda Airport dan sekarang aku menuju Narita Airport. Pada pemberhentian selanjutnya tanpa bertanya aku langsung turun, karena kereta yang tadinya ramai sudah sepi dan tidak terletak dibawah tanah, itu artinya kereta sudah mendekati Airport atau pantai. Aku langsung menyebrang ke peron sebrang, di peron sebrang tersebut sudah ada kereta yang hendak berangkat. Aku bertanya pada orang-orang “Haneda Airport?”, mereka mengangguk dan aku pun naik. Selama di kereta aku tidak begitu saja lega, tapi aku bertanya-tanya dalam hati, apakah kereta ini melewati Stasiun yang ingin aku tuju karena tujuanku bukan Haneda Airport. Dengan beragam perusahaan kereta disini, tempat pemberhentian kereta pun berbeda-beda stasiun.
Untuk tiba di Odaiba aku harus transit di Shimbashi station (kalau tidak salah), setelah itu berganti kereta Yurikamome line. Kereta ini berbeda dengan kereta yang sebelumnya aku naiki yang sama seperti comuterline, tapi kereta Yurikamome line ini sama seperti MRT, dan uniknya setiap gerbong pasti ada petugasnya. Ya mungkin kalau di Indonesia melihat petugas kereta di setiap gerbong biasa saja, tapi di Negara matahari terbit ini semuanya serba teknologi. Beli karcis pakai mesin, pintu keluar-masuk stasiun berfungsi otomatis, paling hanya 1 atau 2 petugas kereta di setiap stasiun. Jadi begitu masuk kereta Yurikamome line aku langsung merasa rute ini istimewa. Selain setiap gerbong ada petugasnya, kursi kereta pun berbeda seperti kursi dipermainan roller coster (bentuk kursinya yaa). Dan benar, rute ini memang istimewa, sepanjang perjalanan aku melihat laut terhampar luas dan kereta melewati jembatan rainbow (rainbow bridge), berasa di Amerika, Indah sekali. Tidak lama, sampailah aku di stasiun Odaiba, dan woow pemandangannya menakjubkan. Semua icon Odaiba terlihat ketika saya keluar dari kereta. Ada replika patung liberty, Mall Aquacity, Gedung Fuji TV  dan robot gundam raksasa. Yang menarik perhatian saya adalah gedung Fuji TV, selain gedungnya yang besar, gedung ini memiliki banyak sekali anak tangga untuk masuk ke dalamnya dan bagian atas gedung terdapat bangunan seperti bola pokemon, itu adalah dek observatory nya. Dan guys, setelah penasaran mengamati gedung fuji TV, pandangan saya langsung tertuju pada replika patung liberty, patung yang sering muncul ketika mononton film Hollywood. Tidak membutuhkan waktu lama untukku menemukan temanku diantara puluhan turis yang berkunjung disekitar replika patung liberty, padahal saya melihat mereka dari stasiun, mungkin karena mereka menggunakan jilbab. Ya memang jilbab itu adalah identitas diri kita sebagai seorang muslim.
Setelah puas berfoto-foto ria dengan icon kota Odaiba, perutpun lapar. Hehehe.. untung ada kak fani, beliau tau restoran Indonesia yang ada di Mall Aquacity. Menurut aktivis lingkungan, cara seperti ini termasuk tidak ramah lingkungan karena boros jejak karbon. Sebisa mungkin kita harus memamakan makanan local untuk tidak boros jejak karbon. Tapi, apa mau dikata, kita kangen masakan Indonesia. Nama restorannya adalah restoran Surabaya, pelayan yang melayani kami rupanya sudah kenal dengan kak fani. Restoran ini cukup ramai dan pelanggannya tidak hanya orang Indonesia, rupanya orang Jepang suka juga makanan Indonesia. Restoran ini menyajikan beragam menu masakan Indonesia, ada juga paketnya. Aku memesan paket B yang terdiri dari nasi+ayam, tahu, tempe+sayur+es jeruk+dessert (jelly), dengan harga kurang lebih 100.000 kalau di rupiahkan, sudah termasuk murah kalau dibandingkan dengan masakan Jepang porsi lengkap. Yang uniknya di restoran ini, walaupun kita sudah memesan minuman, mereka menyediakan air putih gratis untuk pelanggan, dan jika air putih kita habis, tanpa dipanggil mereka dengan sigap menambah air putih kita. Jadi tidak perlu khawatir seret kalau makan disini.
Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan ke Tokyo tower, menggunakan train. Perjalanan kami dipandu oleh kak Fani sepenuhnya, jadi kami hanya ngekor saja. Hahaha.. (big hug kak Fani) Sebelum sampai di Tokyo Tower, kami mengunjungi Zojoji Temple. Suasana di Zojoji Temple begitu asri dan khidmat karena turis yang berkunjung tidak seramai Asakusa Temple. Oiya, untuk menuju dua tempat ini, hemmm kami perlu berjalan kaki kurang lebih 1 km dari stasiun. Sepanjang jalan, hampir 2/3 orang berjalan kaki dan hanya 1/3 kendaraan yang lalu lalang. Salut deh buat orang Jepang, pada kuat berjalan kaki, aku aja gempor. Hahhaha. Kami tidak masuk ke dalam Tokyo Tower karena harganya tidak ramah dengan kondisi kantong kami. Ya walaupun begitu kami tetap eksis kok, berfoto ria dengan taman bunga dan perahu one peace yang berada di depan Tokyo tower.
Okee, perjalanan kami selanjutnya adalah patung Hachiko. Kami harus menggunakan train menuju stasiun Shibuya dan yapp berjalan kaki lagi menuju stasiun terdekat dari Tokyo Tower. Stasiun Shibuya ini letaknya seperti di dalam mall loh, karena banyak sekali toko di dalam stasiun ini. Setelah berfoto dengan patung Hachiko, kak Fani mengajak kami ke lantai atas stasiun (lupa lantai berapa) untuk melihat persimpangan scramble secara keseluruhan dari atas. Sebelumnya aku melihat sekilas sama seperti persimpangan biasa tapi pas lampu merah, masya allah semua orang menyebrang dari 4 arah terlihat seperti semut berkerumun, menakjubkan sekali. Cekrek. Kami pun tidak lupa mengabadikan moment ini.
Inilah akhir perjalanan kami hari ini, setelah dari Shibuya kami kembali ke penginapan masing-masing. Oiya, kak Fani menawariku menginap di tempat temannya besok karena besok kak Fani kembali ke asramanya. Wah, Alhamdulillah rezeki yang tidak di sangka-sangka. Padahal aku sempat bingung mau nginap dimana besok malam karena budgetku tidak mencukupi untuk menyewa hostel lagi.

21 Maret 2015
Hari ini aku ditemani Rika, karena kak Fani ada acara di kampusnya dan Laily hari ini kembali ke Jakarta. Kemarin aku dan Rika sudah membuat planning untuk berkunjung ke beberapa tempat yang belum kami kunjungi di daftar list kami.
Pagi harinya aku packing terlebih dahulu, setelah itu memasak nasi. Walaupun masaknya pakai rice cooker tapi karena berbeda bentuk akhirnya aku meminta bantuan pada pemiliki hostel. Oiya, beras yang aku pakai ini beras yang aku minta dari mbak Nita looh. Rencananya hari ini aku dan Rika ingin mencoba pinik ala ala orang Jepang di Ueno Park karena hari ini masuk awal musim semi. Aku dan Rika sudah membagi tugas, Rika membawa telur dan aku membawa nasi, sederhana yah lauk kami.Hahaha.
Setelah semua beres, aku menitipkan koperku ke pemilik hostel karena pasti aku pulangnya lewat dari waktu chek out hostel. Kali ini Rika yang menjemputku, jadi aku menunggu Rika di stasiun dekat hostelku. Rika pun memiliki pengalaman yang sama denganku, KESASAR. Hahaha.. Sesampainya di Ueno Park rupanya banyak juga orang yang piknik, dan disinilah pertama kalinya aku menemukan seorang pemulung di Jepang. Itu tandanya setiap Negara pasti memiliki kesenjangan ekonomi.
Setelah menghabiskan bekal kami, kami membuat plan B dengan alasan parno kesasar akhirnya perjalanan kami selanjutnya adalah Asakusa Temple dan HANYA ITU, kami merasa cukup menjelajahi Tokyo kemarin padahal mah masih kurang banget. Hahaha. Tempat yang paling ingin aku kunjungi di Tokyo tidak sempat ku kunjungi yaitu Tsukiji Fish Market. Hikss. Padahal sudah mengharap bisa makan ikan segar dan melihat pasar tradisional Jepang.
Target kami di Asakusa adalah berfoto dengan Tokyo Skytree yang sebelumnya adalah menara tertinggi di dunia, sekarang menara kedua tertinggi di dunia setelah  Burj Khalifa. Oiya, hampir lupa jadi kemarin itu setelah dari Shibuya, aku dan Rika sempat berkunjung ke Asakusa Temple untuk berfoto dengan Tokyo Skytree dengan suasana malam. Yaa pokoknya Tokyo Skytree ini punya cerita tersendirilah buat kita, 4 hari di Tokyo 3 kali mengunjungi Asakusa, memang juara deh lokasi ini. Hahaha. Oiya yang bikin ketagihan di Asakusa selain Tokyo Skytree, jajanan dan oleh-oleh khas serta temple nya, kebabnya juga bikin ngangenin.
Setelah puas berfoto dengan Tokyo Skytree kami pun mampir ke hostelku untuk mengambil koper dan melanjutkan perjalanan ke apartemen temannya kak Fani yang tidak jauh dari replika patung liberty. Jam 6 kami sudah sampai di apartemen, tapi kami tidak bias masuk karena yang punya apartemen belum pulang. Jadi kami menunggu di luar apartemen. Jadi yang bias masuk apartemen itu hanya si empunya apartemen (yang memiliki kunci) dan tamu yang diizinkan masuk oleh si empunya apartemen. Kalau tidak ada pemiliknya, boro-boro masuk apartemen masuk gedungnya saja tidak bisa. Akhirnya kami menunggu di convenient store yang tidak jauh dari apartement. Di convenient store tersebut kami menjadi mellow, entah karena lagu yang mereka putar atau karena besok harus kembali ke Tanah Air. Rupanya aku dan Rika sama-sama sedih meninggalkan Jepang, padahal sudah kangen juga sama keluarga di tanah air. Hikkks.

22 Maret 2015
Go home, yeaaay…
Pesawat kami berangkat jam 11 an malam, jadi paginya kami sempatkan jalan-jalan dulu bertiga. Tidak jauh, sekitaran replika patung liberty, mall aquacity dan menyusuri pantai di sekitar. Rupanya Odaiba ini adalah pulau buatan, pantas saja dikelilingi oleh lautan. Sebelumnya aku pernah mendengar pulau buatan Jepang, tapi Alhamdulillah tidak menyangka bisa menginjakkan kaki di pulau buatan ini.
Jam 5 kami sudah berangkat ke bandara Haneda. Oiya, kekonyolan yang aku lakukan adalah memakai baju sampai 10 lapis untuk menghindari membeli bagasi. Ckckkc. Sekedar info, Bandara Haneda memiliki mushola looh dan itu nyaman banget. Tidak semua orang bisa masuk ke dalam musholla, kita harus memencet tombol di sisi sebelah kanan mushola dan memberitahu “saya muslim, dan saya ingin sholat”, barulah pintu mushola dapat terbuka.

Komentar:
Awalnya cuma ingin bikin 4 part dari proses sampai selama perjalananku ke Jepang, tapi jadinya ada 5 tulisan..
Maapkeun kalau ada salah-salah tulis baik dari EYD ataupun penulisan kata. 

Belajar dan Belajar,,,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SINOPSIS KOREAN DRAMA BIRTH SECRET [EPISODE 1, PART 2]

Pengalaman Mendaftar Beasiswa Kemenpora

GOES TO JAPAN PART 2